Tuesday, 20 December 2016

Himar-Himar Liar dan Seekor Singa Dalam Potret Alquran

Dr. Muhammad Widus Sempo

Peta-peta qur’ani yang merekod kerugian penduduk neraka Saqar:

Tidak shalat.
    Himar (Wikipedia.org)
  • Tidak menyantuni fakir-miskin.
  • Melibatkan diri di kebatilan ahli-ahli batil.
  • Mendustai kebenaran hari kebangkitan dan pembalasan.
  • Membelakangi nasehat kebaikan.
  • Keimanannya bersyarat, tidak ikhlas beriman.
  • Tidak takut azab akhirat.
  • Mati dalam keadaan buruk (su’ul khatimah).

Siapakah yang dipotret Alquran sebagai himar-himar liar yang menggigil ketakutan dari seekor singa?
Mereka ini tontonan terbuka penduduk surga. Menariknya, meski tayangan live ini potret akhirat, tetapi menjadi tontonan hidup dan terbuka sejak Alquran turun hingga hari kiamat. Terlebih lagi, Alquran yang memotret, potret samawi yang selalu akurat mengambil wajah-wajah ibrah keQuranan dalam mewarnai kehidupan dengan hikmah-hikmah berkelas.
Umumnya, pelakon atau pemeran utama skenario cerita merupakan unsur yang sangat penting bagi setiap sutradara, namun Alquran sungguh beda. Bukan figur atau objeknya yang penting, tetapi racikan makna yang terpadu antara objek yang menjadi figur dan peran makna yang dimainkan.
Dengan pemilihan tokoh yang kurang tepat, peran kehidupan yang dimainkan pun tidak terpenuhi. Lain halnya Alquran, tidak ada istilah “kurang tepat dalam memilih figur-figur makna”. Karena yang terpilih, itulah yang terbaik, tidak ada yang dapat berdiri di posisinya sebagai pemeran pengganti.[1]
Cerita duniawi dan tokoh-tokoh pemerannya punya batas waktu; berjaya di hari kemarin, esoknya mulai terkikis dari ingatan, kemudian terlupakan. Sehebat apa pun skenario manusia, mereka tidak dapat menguasai zaman; dipuja-puji suatu masa, masa lain datang menutupinya dengan skenario yang lebih hebat lagi. Lain halnya dengan Alquran, figur-figur pemaknaan yang terpilih dan hikmah-hikmah hidup yang dibeberkan menguasai zaman. Sejak ia turun hingga kiamat, manusia senantiasa mengambil ibrah dari muara makna yang tidak pernah kering memberi ruh kehidupan.
Ya, meskipun bahasa-bahasa sastra manusia sepanjang sejarah diotak-atik untuk mencari kata terbaik dan figur terhebat untuk mencoba menggantikan kata dan figur makna yang dipilih Alquran, mustahil mereka menemukannya. Yang mereka temukan hanyalah kelemahan diri untuk menandingi Alquran. Pengakuan jujur terhadap sastra Alquran yang tidak ada tanding dari hati para rival Islam merupakan saksi sejarah yang tidak terpatahkan.[2]
Di potret Alquran, himar-himar liar itu tidak lain kecuali para penduduk neraka Saqar.
Ya, mereka yang anti islami.
“No Islam, no Quran, no Muhammad.” Teriak mereka menolak segala yang berbau Islam.
Mendengar Islam, Quran dan nabinya, mereka seperti himar-himar liar yang sedang dikejar singa kelaparan.
Sila khayalkan hidangan makna Alquran ini dan coba terka seperti apa kiranya kejiwaan orang-orang yang dipotret Alquran dalam bingkai seperti ini!
“Telinga apa yang mereka punya? Seperti apa hati mereka? Jiwa apa yang sedang berkecamuk dalam diri mereka?” Tanya maknawi Alquran.
Telinga mereka seperti disambar petir setiap kali mendengar petuah-petuah islami, mereka sangat alergi dengan Islam. Inilah yang di kemudian hari diistilahi dengan fobia Islam yang akarnya telah ada sejak hari pertama Alquran diperdengarkan di masyarakat jahiliah.
“Telinga macam apa ini? Adakah sejenis manusia yang bertelinga seperti ini?” Gugah maknawi Alquran.
Jantung mereka seperti copot, hati tidak lagi terasa, mati dari suara-suara hak, yang ada hanyalah kebatilan. Di kala mendengar seruan Alquran, muka mereka pucat seperti orang yang lagi mendengar suara singa yang sedang mendekat.
“Adakah mereka berhati manusia? Punyakah mereka nilai-nilai peradaban yang manusiawi?” Gugah Alquran selanjutnya.
Ruh mereka seperti terbang setiap kali mendengar yang islami. Layaknya orang yang menyakini riwayat hidupnya akan tamat dari terkaman singa, meski singanya belum menerkam. Hakikatnya, mereka sudah mati meski nyawa masih dikandung badan.
“Apalah arti hidup jika sudah seperti ini? lebih baik mati saja dari nyawa dikandung badan, tetapi ruh kehidupan sudah tidak ada lagi.” Kesimpulan maknawi Alquran untuk mereka.
Siapakah mereka ini?
Merekalah yang dipotret Q.S. Al-Muddatssir 74: 38-56
﴿ كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ رَهِينَةٌ ﴿٣٨﴾ إِلَّا أَصْحَابَ الْيَمِينِ ﴿٣٩﴾ فِي جَنَّاتٍ يَتَسَاءَلُونَ ﴿٤٠﴾ عَنِ الْمُجْرِمِينَ ﴿٤١﴾ مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ ﴿٤٢﴾ قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّينَ ﴿٤٣﴾ وَلَمْ نَكُ نُطْعِمُ الْمِسْكِينَ ﴿٤٤﴾ وَكُنَّا نَخُوضُ مَعَ الْخَائِضِينَ ﴿٤٥﴾ وَكُنَّا نُكَذِّبُ بِيَوْمِ الدِّينِ ﴿٤٦﴾ حَتَّىٰ أَتَانَا الْيَقِينُ ﴿٤٧﴾ فَمَا تَنفَعُهُمْ شَفَاعَةُ الشَّافِعِينَ ﴿٤٨﴾ فَمَا لَهُمْ عَنِ التَّذْكِرَةِ مُعْرِضِينَ ﴿٤٩﴾ كَأَنَّهُمْ حُمُرٌ مُّسْتَنفِرَةٌ ﴿٥١﴾ يُرِيدُ كُلُّ امْرِئٍ مِّنْهُمْ أَن يُؤْتَىٰ صُحُفًا مُّنَشَّرَةً ﴿٥٢﴾ كَلَّا ۖ بَل لَّا يَخَافُونَ الْآخِرَةَ ﴿٥٣﴾ كَلَّا إِنَّهُ تَذْكِرَةٌ ﴿٥٤﴾ فَمَن شَاءَ ذَكَرَهُ ﴿٥٥﴾ وَمَا يَذْكُرُونَ إِلَّا أَن يَشَاءَ اللَّهُ ۚ هُوَ أَهْلُ التَّقْوَىٰ وَأَهْلُ الْمَغْفِرَةِ ﴿٥٦﴾.
Ya, kelompok ayat ini terkait rapat dengan ayat-ayat Walid bin Al-Mugirah. Menariknya, semuanya dalam bingkai Q.S. Al-Muddatssir. Mereka seperti mengenal pasti apa yang sedang bergejolak di benak pemerhati ayat-ayat kehancuran Walid. Karena itu, secara maknawi mereka seperti bertanya, “Walid yang punya 10 sifat biadab, apakah neraka Saqar hanya akan melahap hidup-hidup orang-orang yang punya sifat kebiadaban seperti ini, ataukah di sana ada ruang untuk penghuni baru selain dari Walid dan sejenisnya?”
“Ya, benar sekali, selain Walid dan sejenisnya, di sana ada penghuni lain yang memiliki sifat-sifat tambahan yang tidak jauh beda dari sifat-sifat kebiadaban yang dimilikinya seperti yang direkod kelompok ayat di atas.
Olehnya itu, neraka Saqar bukan hanya untuk Walid dan siapa saja yang melakoni perannya dengan 10 sifat buruk yang dimilikinya, tetapi untuk yang tidak shalat, tidak menafkahi fakir-miskin, menyertai kebatilan ahli-ahli batil, mendustai hari akhirat, membelakangi petuah-petuah Qurani yang disuarakan Rasulullah Saw dan mati dalam keadaan buruk (su’ul khatimah).
Mereka ini wajah-wajah lain yang mengenakan topeng Walid yang akan mengisi dan meramaikan neraka Saqar.” Jawab maknawi kelompok ayat di atas.
Karena Walid telah menjadi icon baku Alquran untuk neraka Saqar, Olehnya itu Walid seakan-akan menghimpun semua sifat-sifat buruk tersebut seorang diri. Karena memerangi satu kebenaran, seribu satu sifat buruk kemanusiaan datang menghampiri dirinya.
Ya, kebenaran dapat menghancurkan segudang kejahatan, tetapi menolak kebenaran dapat menarik sejuta titik kehancuran yang pasti. Itulah hakikat Quran yang dipercikkan ayat-ayat neraka Saqar.
Yang tidak kalah menariknya di sini, Walid dan yang melakoni peran-peran kebiadabannya diilustrasikan Alquran seperti himar yang sedang ketakutan di saat mendengar petuah-petuah agama.
Fitrah yang benar, fitrah yang mendekati seruan-seruan keselamatan. Jiwa yang suci, jiwa yang mendekati siapa saja yang menyebar kedamaian. Karena fitrah dan jiwa Walid sakit parah, ia pun mengabaikan peta-peta keselamatan Alquran dan lebih memilih jurang kehancuran.
Ya, jika seekor himar lari terbirit-birit dari seekor singa, itu wajar dan seperti itulah bahasa rimba. Namun sosok biadab seperti Walid yang kesakitan dan ketakutan mendengar suara-suara yang islami merupakan perkara yang cukup sukar dimengerti. Karena Alquran telah merekod, di balik semua itu pastinya terselubung pesan-pesan kehidupan yang mencerahkan.
Jika seperti ini potret Alquran, himar lebih mulia dari Walid. Himar tidak menyalahi hukum fitrah dan rimba, namun Walid menyalahi fitrah, adab-adab sosial dan gema peradaban yang insani.
Jika Alquran lebih memuliakan hewan dari manusia, tentunya orangnya tidak lagi manusiawi, tetapi hewani, bahkan lebih bejat lagi dari hewan.
Mereka inilah yang dibidik Q.S. Al-A’raf 7: 179 dan Q.S. Al-Furqan 25: 44 yang lebih memartabatkan hewan sebagai kreasi Allah yang tidak kalah sempurna penciptaannya dari orang-orang biadab seperti Walid.
﴿ وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِّنَ الْجِنِّ وَالْإِنسِ ۖ لَهُمْ قُلُوبٌ لَّا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَّا يَسْمَعُونَ بِهَا ۚ أُولَٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ ﴿١٧٩﴾.
﴿ أَمْ تَحْسَبُ أَنَّ أَكْثَرَهُمْ يَسْمَعُونَ أَوْ يَعْقِلُونَ ۚ إِنْ هُمْ إِلَّا كَالْأَنْعَامِ ۖ بَلْ هُمْ أَضَلُّ سَبِيلًا ﴿٤٤﴾.
Di samping itu, terdapat banyak pemberi syafaat di hari kiamat. Jika lepas dari satu, tersisa seribu satu harapan lagi dari syafaat-syafaat ukhrawi. Namun Walid dan penduduk neraka Saqar sungguh beda; tidak dapat syafaat nabi, malaikat, bahkan dari orang-orang terdekat.
Anaknya, Khalid bin Walid, sahabat mulia yang kepahlawanannya kekal dikenang sejarah dengan tinta emas tidak dapat menyelamatkan ayahnya dari siksa neraka Saqar meski seberat atom.
Apakah ada kehancuran yang melebihi kehancuran Walid dan penduduk neraka Saqar?
Entah seperti apa sakit dan perihnya hati penduduk neraka Saqar di saat melihat para penghuni neraka lain diangkat satu persatu dari derajat kehinaan yang menyiksa ke derajat yang lebih mulia di surga karena mendapat syafaat meski dadanya hanya memiliki keimanan seberat atom?
Inilah kehancuran ganda yang sulit terlukiskan kepedihannya.
Olehnya itu, Alquran sebagai kitab akhlak termegah dengan berbobot adabi yang tidak ada duanya hanya diterima dengan mudahnya oleh orang-orang bertakwa dan ahli maghfirah.
Mereka inilah yang mampu membahasakan cita rasa yang Qurani dari mendengar seruan-seruan Alquran. Di lain sisi, orang yang tidak mampu menangkap cita rasa nikmat seruan-seruan tersebut dibeberkan aib dan malunya oleh Alquran dengan bahasa yang begitu kuat menyentuh hingga akhir zaman dan dengan bahasa yang membuka ruang interpretasi untuk memaknai desir-desir perasaan jiwa yang sedang dililit seribu satu masalah yang tidak terpecahkan.
Di penghujung tulisan ini, saya mengajak pemerhati Alquran menyuarakan percikan maknawi ayat-ayat Walid dan neraka Saqar seperti berikut:
  • Meskipun derajat penciptaan hewan lebih rendah dari apa yang dimiliki manusia, namun karena Alquran kadang memakainya untuk memaknai kebiadaban tertentu musuh-musuh Islam, derajat hewan pun lebih mulia dari mereka.
  • Karena hewan hadir menghiasi Alquran, dia pun bacaan terbuka bagi pemerhati Alquran untuk lebih banyak tahu dunia hewan dan rahasia-rahasianya.
  • Karena hadirnya ayat-ayat yang memuat hewan tertentu dalam menyuguhkan pemaknaan, hewan pun guru tersendiri terhadap manusia dalam bingkai keQuranan.
  • Kebenaran yang ditepis awal dari segala malapetaka yang mengintai.
  • Walid dan orang-orang yang melakoni sifat-sifat buruknya bukan hanya dihantam ayat-ayat yang terkait langsung dengan neraka Saqar, tetapi semua ayat yang membeberkan kebiadaban orang-orang kafir.
  • Cara Alquran memenangkan Rasulullah Saw tidak dapat diterka totalitasnya, namun hanya dapat diyakini kepastiannya.
  • Begitu banyak yang memakai topeng kebiadaban Walid di zaman sekarang, yang selamat, orang yang tahu diri dan insaf segera, kemudian menjadi bagian dari orang-orang yang bertakwa dan ahli maghfirah.


[1]      Muhammad Abdullah Darraz, An-Naba’ al-Adzim. Hlm111-112
[2]      Penyifatan Walid bin al-Mugirah yang berkelas adabi tinggi terhadap sastra Alqur’an contoh terdekat dalam hal ini.