Tuesday, 20 December 2016

10 Aib Walid Bin Al-Mugirah yang Diabadikan dalam Alquran

Dr. Muhammad Widus Sempo

Biang kehancuran Walid bin al-Mugirah antara lain:
    Ilustrasi (inet)

  1. Memiliki aib-aib kejiwaan yang dipicu oleh kebenciannya terhadap Islam dan Rasulnya Saw.
  2. Tidak tahu seperti apa Allah membagi anugerah-Nya.
  3. Karena tidak tahu, ia melihat dirinya lebih pantas menerima risalah kenabian dari Muhammad
  4. Tidak belajar dari sejarah, setiap yang memusuhi nabi pasti hancur.
  5. Tidak punya intropeksi diri. Dengan aib yang dibeberkan Alquran sepatutnya dia mengimani Alquran, namun itu pun tidak cukup untuk menyadarkannya.
  6. Terfitnah dengan dunia dan isinya. Karena dianugerahi ini dan itu, ia pun merasa punya segala-galanya.
  7. Mendustai kata hatinya yang membenarkan Alquran. Untaian katanya yang begitu indah dalam menyifati Alquran bukti nyata dalam hal ini.
Seperti para antagonis lain yang memusuhi Islam, kehancuran Walid bin al-Mugirah direkod Alquran dengan begitu apik dan berkesan. Ayat-ayat Walid menjadi bagian terpenting dari peran antagonis yang dilakoni para musuh Islam. Kelompok ayat tersebut saling melengkapi dalam menyuguhkan pemaknaan yang berkelas tinggi di sejarah peperangan antara hak dan batil. Mereka pun di sisi lain telah mengisi dan mewarnai struktur sistematika Alquran.

“Seperti apakah posisi dan peranku dalam menyuguhkan makna-makna hidup yang dilakoni para antagonis? Apakah Anda mengenaliku dalam memaknai kebiadaban Walid, antagonis lain yang gesit memerangi Islam.” Seperti itu pertanyaan maknawi ayat-ayat Walid kepada Anda, wahai para pecinta sejarah kenabian versi Alquran.
Siapakah Walid bin al-Mugirah itu?[1]
Walid bin al-Mugirah ayah dari seorang sahabat yang pemberani, yang kepahlawanannya terukir dengan tinta emas sejarah Islam. Dialah Khalid bin al-Walid.
Seperti para rival Islam, Walid salah satu pemimpin Quraisy yang didengar dan dituakan. Dia orang terkaya Quraisy dan terekod sebagai orang yang memberi kontribusi banyak dalam pembangunan Ka’bah di saat direnovasi.
Kedermawanannya dapat acungan jempol, khususnya di musim haji. Seperti yang dikisahkan, ia menyembeli 10 binatang kurban setiap harinya selama 40 hari untuk jemaah haji.
Di samping itu, ia memiliki kafilah dagang yang berjumlah 100 unta di setiap perjalanan. Mereka memasuki kota Mekah bukan dari satu pintu, tetapi dari pintu-pintu yang berlainan, namun semuanya tiba pada waktu yang sama.
Seperti apakah kebiadaban Walid bin al-Mugirah yang direkod Alquran?
Layar kehidupan Walid menayangkan perjalanan hidup yang dipenuhi dengan kebencian dan permusuhan terhadap Islam. di antara episode-episode kehidupan tersebut:
  1. Episode klaim sihir terhadap Alquran:[2]
Di episode ini, Walid bin al-Mugirah mendengar Rasulullah Saw sedang membaca Q.S. Ghafir 40: 1-3:
﴿ حم ﴿١﴾ تَنزِيلُ الْكِتَابِ مِنَ اللَّهِ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ ﴿٢﴾ غَافِرِ الذَّنبِ وَقَابِلِ التَّوْبِ شَدِيدِ الْعِقَابِ ذِي الطَّوْلِ ۖ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ إِلَيْهِ الْمَصِيرُ ﴿٣﴾.
Mendengar ini, hati Walid tersentuh dan terpesona dengan keindahan dan kekuatan makna Alquran. Karena ruh sastra yang mengalir kuat dalam dirinya, ia pun tidak dapat menepis ruh maknawi Alquran yang mampu mencairkan kebekuan hati meski sekeras batu gunung.
Ya, karena raut muka tidak bisa menyembunyikan desir-desir hati, perubahan dirinya ini tercium oleh orang-orang kafir.
Tahu hal ini, Abu Jahal tidak berpangku tangan. Dengan cepat dia mendatangi Walid.
“Wahai pamanku, kaummu siap menderma harta mereka untuk dihadiahkan secara khusus untukmu. Mereka minta supaya engkau menghindari Muhammad dan jangan lagi mendatanginya dengan alasan apa pun.” Bujuk Abu Jahal.
“Ada apa dengan rayuanmu ini? Bukankah saya yang paling terkaya di antara kalian. Untuk apa harta itu?” Tepis Walid.
“Oh, jika seperti itu, hendaknya engkau melontarkan wacana yang meragukan Alquran dan Muhammad yang kemudian didengarkan sendiri oleh kaummu.” Pinta Abu Jahal.
“Entah apa yang dapat aku katakan. Demi Allah, tidak ada di antara kalian yang dapat menandingiku dalam sastra.” Tegasnya.
“Demi Allah, Alquran begitu manis menyentuh dan mengisi ruang-ruang hati ini dengan hakikat-hakikat makna yang tidak mungkin terpatahkan.
Sastranya berkualitas tinggi dan berperadaban. Makna-maknanya merangkumi semua aspek kehidupan.
Gema-gema peradabannya yang islami membuahkan hasil yang tidak dapat dipungkiri. Sungguh beruntung bagi siapa saja yang mengikutinya dan memetik hikmah kehidupan darinya.
Sastranya yang estetis dan indah tidak mungkin ditandingi siapapun. Siapa yang ingin menandinginya akan jatuh tersungkur di lubang kehancuran yang digalinya sendiri. Semuanya menengok dan terkesima dengan suguhan-suguhan maknanya yang berkelas. Pastinya, dia di atas semua jenis karya sastra.” Ucapnya dengan penuh pemaknaan yang teks Arabnya seperti berikut:
وَاللَّهِ إِنَّ لِقَوْلِهِ الَّذِي يَقُولُ حَلَاوَةً
وَإِنَّ عَلَيْهِ لَطَلَاوَةً
وَإِنَّهُ لَمُثْمِرٌ أَعْلَاهُ، مُغْدِقٌ أَسْفَلُهُ
وَإِنَّهُ لَيَعْلُو وَمَا يُعْلَى
Inilah ucapan terindah yang pernah diucapkan oleh seorang rival Islam yang memusuhi Alquran. Saksi hidup yang setiap saat memenangkan Alquran. Kesaksian yang lahir dari hati jujur orang yang punya tingkat kemahiran dalam mengukir kata-kata puitis yang berbobot yang mendapat acungan jempol para pecinta sastra.
Mendengar ini, Abu Jahal terbirit-birit mencari pamannya.
“Pamanku mengislamkan diri, mungkinkah? Semoga tidak.” Monolog maknawi Abu Jahal yang kalang kabut mencari pamannya.
“Wahai pamanku. Ini musibah besar. Sesungguhnya kaummu tidak akan pernah meridaimu kecuali engkau mengatakan sesuatu yang menghina Alquran.” Kata Abu Jahal mengiba.
“Oh, seperti itukah? Beri aku tenggang waktu untuk memikirkan hal ini.” Pinta Walid.
“Hmm, Alquran ini tidak lain kecuali sihir yang dipelajari Muhammad dari orang lain.” Bantahnya.
Mendengar ini, semua entitas kehidupan tidak rela Alquran dimaki seperti ini. Seperti Rasulullah Saw yang sedang dirundung kesedihan, mereka pun siap menjadi bala tentara Allah untuk memenangkan dirinya dan Alquran. Mereka seperti bermunajat meminta penurunan wahyu untuk merekod kekejian ucapan ini dan memenangkan Alquran pada waktu yang sama. Q.S. Al-Muddatssir 74: 11-30 pun turun menyambut permintaan ini.[3]
﴿ ذَرْنِي وَمَنْ خَلَقْتُ وَحِيدًا ﴿١١﴾ وَجَعَلْتُ لَهُ مَالًا مَّمْدُودًا ﴿١٢﴾ وَبَنِينَ شُهُودًا ﴿١٣﴾ وَمَهَّدتُّ لَهُ تَمْهِيدًا ﴿١٤﴾ ثُمَّ يَطْمَعُ أَنْ أَزِيدَ ﴿١٥﴾ كَلَّا ۖ إِنَّهُ كَانَ لِآيَاتِنَا عَنِيدًا ﴿١٦﴾ سَأُرْهِقُهُ صَعُودًا ﴿١٧﴾ إِنَّهُ فَكَّرَ وَقَدَّرَ ﴿١٨﴾ فَقُتِلَ كَيْفَ قَدَّرَ ﴿١٩﴾ ثُمَّ قُتِلَ كَيْفَ قَدَّرَ ﴿٢٠﴾ ثُمَّ نَظَرَ ﴿٢١﴾ ثُمَّ عَبَسَ وَبَسَرَ ﴿٢٢﴾ ثُمَّ أَدْبَرَ وَاسْتَكْبَرَ ﴿٢٣﴾ فَقَالَ إِنْ هَٰذَا إِلَّا سِحْرٌ يُؤْثَرُ ﴿٢٤﴾ إِنْ هَٰذَا إِلَّا قَوْلُ الْبَشَرِ ﴿٢٥﴾ سَأُصْلِيهِ سَقَرَ ﴿٢٦﴾ وَمَا أَدْرَاكَ مَا سَقَرُ ﴿٢٧﴾ لَا تُبْقِي وَلَا تَذَرُ ﴿٢٨﴾ لَوَّاحَةٌ لِّلْبَشَرِ ﴿٢٩﴾ عَلَيْهَا تِسْعَةَ عَشَرَ ﴿٣٠﴾.
Di sini, penulis mengajak para pecinta keindahan bahasa Alquran untuk menikmati hidangan makna kelompok ayat di atas dalam merespon kebiadaban Walid tersebut.
Penggalan pertama kelompok ayat di atas begitu dahsyat menyuarakan kehancuran Walid bin al-Mugirah.
“Wahai Muhammad. Biar aku sendiri yang menangani si Walid ini. Bukankah aku yang menciptakannya seorang diri dalam kandungan ibunya, tidak punya daya dan lahir dalam kepapaan. Kini, dia begitu congkak mengingkari Alquran. Lihat saja nantinya, azab kebinasaan menantinya.” Ancam Alquran.
Ya, ayat ini meruntuhkan seluruh sifat keistimewaan yang disandang Walid. Di zaman jahiliah dan Islam dia menyandang gelar “al-Wahid” yang artinya, “seorang diri, tanpa tanding” dan “Raihanah Quraisy” yang artinya, “yang mengharumkan nama bangsa Quraisy.” Itu karena kemurahan, keberanian, kekayaan dan kehormatan Walid yang tidak tersaingi.
Menurut riwayat, dia memiliki kebun di Taif yang senantiasa berbuah sepanjang tahun, tidak mengenal musim kemarau atau hujan. Hartanya melimpah ruah di Taif dan Mekah.
Namun dengan ayat ini, semuanya runtuh dan hancur secara maknawi meski secara kasat mata masih menghiasi kesombongan dirinya. Cepat atau lambat semuanya pasti berakhir.
Ayat ini seperti berkata, “sekarang, kau bukan lagi “al-Wahid”. Hidup dan matimu ada di tangan-Ku. Jika sebelumnya aku mengaruniamu keturunan yang banyak dan harta yang berlimpah, kini, lebih mudah lagi bagi-Ku menelantarkan dirimu dengan mencabut semua nikmat-nikmat itu. Bukankah engkau tercipta dari ketiadaan? Dengan dasar apa engkau menyombongkan diri?” Hujatnya.
Ya, dalam keadaan kufur seperti ini, ia masih meminta luapan rezeki. Sungguh tidak tahu diri.
Kerakusan tersebut tidak dikabulkan Alquran, bahkan ia menyuarakan kepastian dari kehancuran dirinya.
﴿ ثُمَّ يَطْمَعُ أَنْ أَزِيدَ ﴿١٥﴾ كَلَّا ۖ إِنَّهُ كَانَ لِآيَاتِنَا عَنِيدًا ﴿١٦﴾ سَأُرْهِقُهُ صَعُودًا ﴿١٧﴾.
“Bagaimana mungkin dikabulkan? Yang telah ada saja belum disyukuri, bagaimana jika ditambah? Tentunya kekufurannya makin menumpuk. Olehnya itu, dia pun menemukan perkara sulit yang tidak mungkin terpecahkan. Kehancuran yang membelenggu dirinya dalam penyiksaan yang tidak kunjung berakhir.” Gema maknawi Alquran.
Ya, di saat orang-orang kafir sepakat meredam gema dakwah Islam yang kian hari membesar dan tidak terbendung, mereka mendatangi Walid untuk meminta solusi terbaik dan tercepat.
Karena dikenal cerdik, ia mulai memeras otaknya memikirkan solusi yang cemerlang. Berulang kali dia memikirkan segala kemungkinan. Semuanya hadir menghiasi ilusinya, namun kata, “sihir, yah Muhammad itu penyihir dan Alqurannya adalah mantra-mantra belaka,” yang diprediksikan dapat diterima dan dipastikan menjadi senjata pamungkas dalam meragukan Alquran.
Karena merasa puas dapat jawaban, ia membelakangi kebenaran kata hatinya yang dahulunya menyifati Alquran dengan penyifatan yang berkelas adabi tinggi dengan muka masam yang menyiratkan seribu satu masalah.
Semua proses ini direkod Alquran dengan bahasa yang membuka ruang-ruang penafsiran untuk memaknai kebiadaban Walid.
﴿ إِنَّهُ فَكَّرَ وَقَدَّرَ ﴿١٨﴾ فَقُتِلَ كَيْفَ قَدَّرَ ﴿١٩﴾ ثُمَّ قُتِلَ كَيْفَ قَدَّرَ ﴿٢٠﴾ ثُمَّ نَظَرَ ﴿٢١﴾ ثُمَّ عَبَسَ وَبَسَرَ ﴿٢٢﴾ ثُمَّ أَدْبَرَ وَاسْتَكْبَرَ ﴿٢٣﴾ فَقَالَ إِنْ هَٰذَا إِلَّا سِحْرٌ يُؤْثَرُ ﴿٢٤﴾ إِنْ هَٰذَا إِلَّا قَوْلُ الْبَشَرِ ﴿٢٥﴾.
“Ya, seperti dia memeras otaknya dalam menghabisi Islam, ia akan dihabisi Allah. Karena dengan hasrat yang membuta menghancurkan Islam, riwayat hidupnya pun dipastikan tamat dengan cara apa saja yang dikehendaki Allah.” Dentuman keras ancaman Alquran.
Ya, neraka Saqar siap menelan dan melahap dirinya.
“Apakah neraka Saqar itu? Neraka yang menguliti kulit dan mengangkat kulit kepala. Tidak ada yang tersisa; kulit, tulang, daging dan darahnya, semuanya hancur tidak tersisa.” Dialog ayat-ayat neraka Saqar yang membuat ngeri para pendusta kenabian.
Dia seperti berkata, “kami ini neraka Saqar. Kami ini dinamai Saqar karena ini dan itu. Seperti itulah kami yang disebut khusus untuk Walid dan siapa saja yang melakoni perannya di kemudian hari.” Siratan maknawi ayat-ayat neraka Saqar.
  1. Episode tawar menawar akidah:
Di episode ini, Walid bin al-Mugirah, al-Ash bin Wail, al-Aswad bin Abdul Muttalib dan Umayyah bin Khalaf menemui Rasulullah Saw untuk menawarkan proposisi.
“Muhammad, mari kita menyembah apa yang kamu sembah dan engkau menyembah apa yang sedang kami sembah. Jika apa yang ada di tangan Anda lebih baik dari yang kami punya, kami pun dapat bagian dari kebaikan itu. Sebaliknya, jika apa yang ada di tangan kami lebih baik dari apa yang engkau punya, Anda pun mendapat bagian dari kebaikan itu.” Bujuk mereka dengan tawaran yang masuk akal.[4]
Karena menyalahi hakikat ketuhanan, mereka pun dibungkam seribu bahasa oleh Q.S. Al-Kafirun 109: 1-6
﴿ قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ ﴿١﴾ لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ ﴿٢﴾ وَلَا أَنتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ ﴿٣﴾ وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَّا عَبَدتُّمْ ﴿٤﴾ وَلَا أَنتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ ﴿٥﴾ لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ ﴿٦﴾.
Ya, tidak ada istilah tawar menawar dalam akidah. Yang hak pastinya hak, yang batil tentunya batil. Akidah ketuhanan tidak mengenal dualisme keyakinan yang mewarnai penghambaan seseorang, kecuali itu di agama lain yang merupakan hasil kreativitas imajinasi cemerlang manusia.
Kelompok ayat di atas seperti berpesan, “wahai umat Muhammad, cukuplah tawar menawar akidah ini sekali dalam umur dunia. Karena kelompok ayat di atas jatuh telak di atas kepala para pembesar Quraisy, yang lainnya pun dipastikan tidak berani mengangkat kepala. Bukan hanya hari ini, di hari kemudian pun tidak akan ada yang berani menawarkan proposisi bodoh sejenis ini kecuali yang tidak mengetahui sejarah kenabian.”
  1. Episode kemuliaan yang dirindukan:[5]
Episode Alquran kali ini merekod jelas perbincangan akrab di antara orang-orang Quraisy yang merindukan kemuliaan.
Ya, bukan karena Alquran itu kalam Allah sehingga ia dibenci, namun karena ia diturunkan kepada Muhammad dan bukan kepada mereka. Olehnya itu mereka berkata, “andai saja Alquran ini benar dan bukan sihir, tentunya bukan kepada Muhammad diturunkan, tetapi kepada salah seorang di kedua kota besar ini.” Mimpi mereka.
Kedua kota besar tersebut adalah Mekah dan Taif bagi mayoritas mufassir, namun lelaki yang dimaksud tersebut menemui banyak penafsiran, di antaranya: Walid sendiri dan Utbah bin Rabiah dari Mekah.
Hematnya, karena Alquran tidak menyebut nama, penyifatannya pun terbuka bagi siapa yang pernah bermimpi seperti itu.
Di sini, Mereka melihat mulia dirinya dari Muhammad, sementara itu kemuliaan anugerah ilahi. Olehnya itu Q.S. Az-Zukhruf 43: 31-32 merekod hidup kebodohan ganda mereka sepanjang hayat:
﴿ وَقَالُوا لَوْلَا نُزِّلَ هَٰذَا الْقُرْآنُ عَلَىٰ رَجُلٍ مِّنَ الْقَرْيَتَيْنِ عَظِيمٍ ﴿٣١﴾ أَهُمْ يَقْسِمُونَ رَحْمَتَ رَبِّكَ ۚ نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُم مَّعِيشَتَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۚ وَرَفَعْنَا بَعْضَهُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِّيَتَّخِذَ بَعْضُهُم بَعْضًا سُخْرِيًّا ۗ وَرَحْمَتُ رَبِّكَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ ﴿٣٢﴾.

Di manakah 10 aib Walid bin al-Mugirah yang dibeberkan Alquran?
Satu sosok tetapi memiliki banyak aib, itulah Walid. Satu aib yang dimilikinya seperti satu sosok Walid dengan sendirinya. Orang kadang dikenal dengan satu aib, tetapi Walid kali ini beda. Dia mengumpulkan banyak aib. Inilah sepuluh aibnya:
  • Suka bersumpah atas nama hak dan batil demi menutupi kebenaran Islam.
  • Hina di mata Alquran.
  • Suka mencela.
  • Penyulut fitnah.
  • Pencegah kebaikan
  • Penganiaya yang melampaui batas
  • Banyak dosa.
  • Kasar dan kikir.
  • Nasabnya tidak jelas, lahir sebagai anak zina.
  • Kaya raya, punya harta melimpah ruah dan banyak anak.
Olehnya itu, Ibn Abbas berkata, “tidak ada yang disifati dengan aib-aib seperti ini kecuali Walid bin al-Mugirah. Aib yang menjangkitinya sepanjang hayat.”[6]
Semua sifat di atas terabadikan dalam kelompok ayat berikut di Q.S. Al-Qalam 68: 10-16
﴿ وَلَا تُطِعْ كُلَّ حَلَّافٍ مَّهِينٍ ﴿١٠﴾ هَمَّازٍ مَّشَّاءٍ بِنَمِيمٍ ﴿١١﴾ مَّنَّاعٍ لِّلْخَيْرِ مُعْتَدٍ أَثِيمٍ ﴿١٢﴾ عُتُلٍّ بَعْدَ ذَٰلِكَ زَنِيمٍ ﴿١٣﴾ أَن كَانَ ذَا مَالٍ وَبَنِينَ ﴿١٤﴾ إِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِ آيَاتُنَا قَالَ أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ ﴿١٥﴾ سَنَسِمُهُ عَلَى الْخُرْطُومِ ﴿١٦﴾.
Mendengar kelompok ayat ini, Walid naik pitam. Dengan menghunus pedangnya, dia mendatangi ibunya, “Muhammad menyifatiku dengan sepuluh sifat. Hanya sembilan sifat yang saya temukan dalam diriku. Yang satunya “zanim, زَنِيمٍ”, tidak aku ketahui artinya. Mohon jelaskan maknanya, atau pedang ini terpaksa menebas lehermu.” Ancamnya ingin tahu.
“Bapakmu kaya raya, namun lemah syahwat (impoten). Takut hartanya tidak ada yang warisi, saya pun terpaksa minta digauli oleh seorang pengembala. Engkau anak si pengembala itu.” Jelasnya dengan jujur.
Oh, selama ini dia tidak tahu jati dirinya yang sebenarnya sebagai anak zina hingga turunnya ayat ini. Tentunya, aib ini sangat memilukan, entah seperti apa raut muka Walid pada saat itu. Jika aib-aib lain masih dapat dipikul meskipun berat, tetapi yang satu ini, muka entah ditutup dengan apa sehingga rasa malunya tertutupi.
Ya, benar sekali komentar Ibn Abbas di atas, penyifatan tunggal Alquran ini terhadap Walid sekali seumur dunia. Besar harapan dari keislaman dirinya setelah dihantam oleh penyifatan Alquran yang tidak pernah salah dalam membidik sasarannya meski ia berlindung di balik tujuh gunung menjulang yang berlapis-lapis, namun semua itu berlalu begitu saja.
Karena ditakdirkan sengsara oleh pilihannya sendiri, ia pun bertambah bengis dan menutup pintu-pintu Islam dari kesepuluh anaknya.
“Tidak ada warisan bagi yang mengikuti agama Muhammad.” Ancamnya.
Meskipun demikian, di antara anak-anaknya ada yang mengislamkan diri setelah kematian ayah mereka seperti Khalid bin al-Walid.
Karena aib-aib Walid ini dipicu oleh kebenciannya terhadap Islam, ia pun hidup dengan cacat ganda; cacat kejiwaan dan cacat fisik yang menandai hidungnya yang terpotong di perang Badar.
Ini yang kemudian disifati Q.S Al-Qalam: 68: 16
﴿ سَنَسِمُهُ عَلَى الْخُرْطُومِ ﴿١٦﴾.
Yang menarik di sini, penyifatan hidungnya dengan “khurtum, خُرْطُوْم, sementara kata ini khusus dipakai untuk hidung babi dan sejenisnya.
Apakah ada kehinaan yang melebihi kehinaan ini? Subhanallah yang memenangkan Alquran dan Rasul-Nya Saw di pelbagai titik estetika Alquran yang begitu akurat dalam memilih kata untuk sebuah makna yang kadang tidak disadari.
Di penghujung tulisan ini, saya mengajak pemerhati ayat-ayat Walid bin al-Mugirah menyuarakan percikan-percikan makna kelompok ayat tersebut:
  • Bukan hanya kelompok ayat ini yang membidik Walid bin al-Mugirah, namun setiap ayat Alquran yang merekod kebiadaban orang-orang kafir.
  • Setiap kali Alquran menyifati kebiadaban orang-orang kafir, setiap kali itu juga Alquran dan Rasulnya Saw dimenangkan.
  • Allah memenangkan Rasul-Nya dengan cara yang luar biasa, di luar dari dugaan manusia. Setiap kali hati menemukan sisi pemenangan Rasulullah Saw dari sistematika struktur Alquran yang ada, setiap kali itu juga hati begitu kuat merasakan sentuhan lembut kudrat Allah yang tidak bertepi.
  • Hikmah terbeberkan di saat hati tersentuh oleh pemaknaan Alquran yang begitu lembut menuntun tangan untuk menemukan muara makna yang menyemburkan sejuta hikmah kehidupan.
  • Setiap antagonis Islam yang disifati Alquran pasti punya penyakit kejiwaan, tetapi Walid bin al-Mugirah penyandang aib-aib kejiwaan yang paling terpuruk.
  • Semuanya tidak berarti tanpa iman, meski Anda memiliki dunia dan isinya di kasat mata. Tanpa iman, tangan Anda pada hakikatnya kosong tak berisi.
  • Alquran kitab sejarah terbesar. Namun untuk memeras muatan sejarahnya, Anda memerlukan banyak alat bantu.
  • Sumber kemenangan terbesar Rasulullah Saw adalah Alquran. Mukjizat fisik yang memenangkan Rasulullah Saw terkait oleh waktu dan tempat, tetapi Alquran di luar dari lingkup waktu dan tempat.
[1]      Siyar A’lâm an-Nubalâ. Vol. 1. Hlm. 64, al-A’lâm. Vol. 8. Hlm. 122
[2]      Tafsir al-Bagawi. Vol. 5. Hlm. 176
[3]      Disahkan oleh al-Hakim dan diriwayatkan pula oleh Ibn Jarir dan Ibn Abi Hatim dari Ibn Abbas.
[4]      Tafsir at-Tabari, vol. 24, hlm. 703
[5]      Ibid, vol. 20, hlm. 580
[6]      Tafsir al-Jalalain, vol. 1, hlm. 758