Monday, 19 December 2016

Cahaya Akhirat Yang Hilang

Cahaya Akhirat Yang Hilang
Dr. Muhammad Widus Sempo

Orang-Orang munafik kehilangan cahaya dikarenakan:
  • Kalah oleh hawa nafsu sendiri yang menyesatkan.
  • Senantiasa menanti kekalahan dan kehancuran orang-orang beriman.
  • Meragukan kebenaran dan kepastian janji-janji Allah dan Rasul-Nya Saw.
  • Ditipu oleh angan-angan kosong.
Di dunia semua orang mendapat cahaya mentari, namun di akhirat ceritanya sungguh berlainan. Jika di dunia cahaya boleh datang dan pergi, pelita dihidupkan dan dipadamkan, namun di akhirat yang bercahaya tetaplah bercahaya, yang gelap tetaplah gelap.
Sugguh tidak berhikmah jika yang bercahaya itu hanyalah matahari, bulan, pelita, lampu dan sejenisnya. Mereka itu benda mati yang pencahayaannya telah diatur oleh sunnatullah dalam hukum kausalitas.
Yang berhikmah itu jika melihat cahaya bukan dalam konteks fisik yang kadang menipu, tetapi justru mencari cahaya maknawi dunia yang memiliki bentuk fisikal di akhirat. Itulah amal-amal duniawi yang bernuansa ukhrawi; shalat, puasa, zakat, harta dan zikir termasuk dalam kelompok amal yang bisa memberi terang di akhirat.
Yang mendapat cahaya tersebut hanyalah orang-orang mukmin. Orang-orang kafir dan munafik terhalang dari cahaya.
Karena dunia dan fenomenanya merupakan gambaran mikro dari kehidupan makro akhirat, olehnya itu hakikat kehidupan orang-orang munafik tidak jauh beda dari kehidupan dunia.
Di dunia orang-orang munafik menyangka bahwa semua perbuatan mereka bermanfaat; bermanis bibir berhati pahit, menebar senyum menyimpan dendam, berkata, “yah, aku bersamamu,” namun di belakang menikam, mengangkat senjata bukan untuk membunuh lawan, justru menghabisi kawan, mengulurkan tangan persahabatan, tetapi hati membelakangi. Mereka mengira semua ini bermanfaat dan menjanjikan kemenangan.
Inilah sumber-sumber cahaya yang mereka kira boleh memberi terang. Mereka seperti anjing di bawah terik sinar matahari siang mengejar impian satu persatu. Namun mereka keliru, semua impian itu hanyalah fatamorgana. Setiap kali harapan itu mendekati titik kejayaan, dengan cepatnya ia sirna. Di perang Khandaq sebagai contoh, orang-orang munafik melakukan manuver demi memperlambat penggalian parit; lamban bekerja, pergi lalu lalang kesana kemari tanpa tujuan yang jelas dan bahkan sengaja pergi ke keluarga mereka tanpa sepengetahuan Rasulullah Saw. Mereka melihat pekerjaan ini tidak lain hanya membuang masa dari sebuah proses kehancuran yang sebentar lagi menerkam. Jadi, buat apa menggali kuburan sendiri? Itulah yang sedang menari-nari di benak mereka. Jika kehancuran berpihak kepada umat Islam, ia dengan tidak malunya menyatakan kebersamaannya dengan musuh Allah, meski mereka itu orang-orang yang tidak menuhankan Allah yang Esa dari Yahudi dan Nasrani.
Oleh itu, akhirat mengambil mikro film ini, kemudian Alquran tayangkan dalam tajuk “cahaya akhirat yang hilang”. Di pentas Shirat al-Mustaqim (titian surga) semua orang punya cahaya kecuali orang kafir dan munafik. Kuat dan lemahnya frekuensi cahaya, jauh dan dekatnya jangkauan cahaya, Luas dan sempitnya lebar cahaya, semuanya itu ditentukan amal-amal duniawi. Ada yang cahayanya setinggi gunung, yang lain seperti lebah, ada juga seperti orang yang sedang berdiri, namun yang paling redup, orang yang cahayanya datang dari ibu jari, kadang kuat menyala, kadang pula padam (riwayat Ibn Mas’ud di tafsir Ibn Jarir dan Ibn Katsir).
Di pentas ini orang-orang munafik mengira cahaya yang nampak di depan mata akan menerangi langkah mereka di atas titian surga, namun seketika itu cahaya hilang, entah kemana, impian mereka pun pupus.
Kemana perginya cahaya itu? Ia terhijab dari pandangan orang-orang munafik. Di sana ada hijab pemisah antara yang hak dan yang batil, terang dan gelap, keimanan dan kekufuran. Karena dibelakangi cahaya, orang-orang munafik sengsara seorang diri meniti Shirath al-Mustaqim.
Entah kemana kaki ini dilangkahkan? Adakah surga menantiku atau justru neraka takdirku?” Desir hati yang tidak menentu.
Hijab ini punya dua sisi; di sebelah dalamnya rahmat untuk orang-orang beriman, namun di luarnya hanya ada azab. Dinding hijab itu tertutup rapat dan tidak punya celah, meski seperti lubang jarum. Cahayanya hanya melihat ke depan dan tidak memberi terang kepada mereka yang berada di belakang hijab.
Karena kalut dan takut, orang-orang munafik berkata, “tunggulah kami wahai orang-orang beriman! Kami ingin mendapat terang dari sorotan cahayamu meski hanya secuil kuku. Mata kaki kami tidak dapat menangkap apa pun di depan mata, semuanya gelap gulita, yang ada hanyalah ketakutan yang lebih gelap dari kegelapan ini sendiri.”
“Tengoklah ke belakang dan cari sendiri cahayamu!” Jawab mereka.
Sungguh sakit, tetapi itulah kenyataan pahit yang mesti mereka terima. Pesan ini meski singkat, tetapi penjabaran maknanya memerlukan ruang yang luas. Itu karena orang-orang munafik pada hakikatnya selalu menengok ke belakang. Yang positif tentunya identik dengan tatapan mata menyongsong masa depan yang lebih cerah. Yang baik itu dekat di depan mata. Namun orang munafik selalu menginginkan keterbelakangan; jika ikut serta berperang, takut berada di baris terdepan, selalu menengok ke belakang mencari jalan terpintas menyelamatkan diri, khususnya jika kemenangan nampak jauh di tangan, tidak sepenuh hati memberi dukungan karena takut rugi harta dan waktu, yang ada di accounting hatinya hanyalah hitungan keuntungan. Olehnya itu, baterai hatinya full charge dengan ketakutan, “jika aku dengan mereka nampak tak ada untung. Jika aku merapat ke laskar Islam di medan perang nampak kematian di pelupuk mata. Bukankah peluang kemenangan berpihak kepada orang-orang Quraish dengan jumlah pasukan yang jauh lebih besar dari tentara Islam?”
Karena itu, di kamus mereka hanyalah “asal-asalan”. Mengangkat senjata di kasat mata, tetapi kekalahan lebih awal menghantui. Memberi suara bulat mentaati Rasulullah Saw, tetapi khianat dan sejenisnya lebih awal menguasai diri. Memberi, tetapi hati tidak ikhlas, angguk-angguk kepala tanda setuju, tetapi hati sekeras baja menolak. Semua ini mengisyaratkan keterbelakangan, posisi dan tempat yang tidak memiliki sorotan cahaya maknawi. Karena tidak punya cahaya maknawi di dunia, di akhirat mereka tidak berhak mendapatkan fisikal cahaya.
“Bukankah kami dahulunya bersamamu di setiap kesempatan wahai orang-orang beriman? Pahit manis kehidupan kita rasai bersama, panas dan dinginnya waktu perang kita arungi bersama? Apakah ini tidak cukup bagimu untuk menunggu kami sejenak sehingga cahayamu dapat menerangi titian langkah ini?” Rayu mereka.
“Ya, itu dulu, itu yang nampak secara lahiriah. Tetapi batinnya gelap dan tidak punya cahaya. Dahulu engkau dikuasai oleh hawa nafsu, ingin menghabisi Rasulullah Saw dan mengubur mati agama Allah. Engkau musuh dalam selimut, selalu mencari kelemahan dan menanti kehancuran kami. Engkau sibuk dengan taman amanimu (impian) yang mengelabui. Yang ada hanyalah hitungan kemenangan dan kejayaan. Kebersamaan dan persaudaraan yang engkau tunjukkan hanyalah tipu belaka, batinnya kebencian dan permusuhan. Engkau seperti hewan jinak, tetapi bertaring dan bergigi tajam, sewaktu-waktu engkau mencelakai kami. Sekarang, engkau dan dirimu. Carilah cahayamu sendiri! Kami dan cahaya kami sendiri.” Jawab tegas orang-orang beriman.
“Hari ini tidak ada tebusan dari apa yang menimpamu. Jika di dunia harta dan tahta selalu menjadi tempat sandaranmu menguatkan diri, sekarang yang ada engkau sebatang kara. Tidak ada lagi tebusan untukmu, bukan lagi waktunya, sekarang waktu menebus semua kejahatan yang diperbuat kejahilan tanganmu. Tempatmu di neraka dan itulah perlindunganmu.” Lanjut mereka menegaskan.
Jika neraka dikatakan sebagai tempat berlindung mereka, sementara neraka itu tempat siksaan, maka mereka ini benar-benar hina dan tercampakkan. Batin mereka merasakan sakit berlipat ganda. Bukan hanya sakit kehilangan cahaya, tetapi jawaban orang-orang beriman pun menyakitkan.
Jika penyakit jiwa yang dirasakan orang-orang beriman di dunia dari penipuan dan pengkhianatan orang-orang munafik dari masa ke masa masih dapat diangkat dengan tegur sapa Alquran dan Rasulullah Saw yang menjanjikan surga dan rida Allah bagi mereka yang sabar dan tabah, tetapi penyakit jiwa yang menjangkiti orang-orang munafik tidak dapat ditawar-tawar lagi, tidak ada ramuan mujarab, tidak ada tebusan dan ganti, yang ada hanyalah pasrah menerima azab dari kezaliman diri sendiri.
“Neraka mereka adalah seburuk-buruknya tempat perlindungan,” tegas Alquran.
Kisah inspiratif ini dikemas rapi Q.S. Al-Hadid, ayat 12-15:
﴿يَوْمَ تَرَى الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ يَسْعَىٰ نُورُهُم بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِم بُشْرَاكُمُ الْيَوْمَ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ ﴿١٢﴾ يَوْمَ يَقُولُ الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ لِلَّذِينَ آمَنُوا انظُرُونَا نَقْتَبِسْ مِن نُّورِكُمْ قِيلَ ارْجِعُوا وَرَاءَكُمْ فَالْتَمِسُوا نُورًا فَضُرِبَ بَيْنَهُم بِسُورٍ لَّهُ بَابٌ بَاطِنُهُ فِيهِ الرَّحْمَةُ وَظَاهِرُهُ مِن قِبَلِهِ الْعَذَابُ ﴿١٣﴾ يُنَادُونَهُمْ أَلَمْ نَكُن مَّعَكُمْ ۖ قَالُوا بَلَىٰ وَلَٰكِنَّكُمْ فَتَنتُمْ أَنفُسَكُمْ وَتَرَبَّصْتُمْ وَارْتَبْتُمْ وَغَرَّتْكُمُ الْأَمَانِيُّ حَتَّىٰ جَاءَ أَمْرُ اللَّهِ وَغَرَّكُم بِاللَّهِ الْغَرُورُ ﴿١٤﴾ فَالْيَوْمَ لَا يُؤْخَذُ مِنكُمْ فِدْيَةٌ وَلَا مِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا ۚ مَأْوَاكُمُ النَّارُ ۖ هِيَ مَوْلَاكُمْ ۖ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ﴾.
Jangan kira komunitas munafik telah berakhir dan tidak akan terulang lagi dalam sejarah. Yang pergi itu hanyalah orang-orangnya, tetapi sifatnya diwariskan ke dunia. Tidak ada yang tersembunyi, semua sifatnya jelas terurai satu persatu. Surah kedua Alqur’an, Al-Baqarah, menyatakan hakiki jati diri mereka bahwa mereka itu bukanlah bagian dari orang-orang beriman meski mereka bersumpah serapah mengaku beriman, dipertajam lagi oleh Q.S Al-Hadid dan Q.S. Al-Munafiqun. Artinya, sifat-sifat kemunafikan ini punya peluang menjangkiti siapa saja. Yang ditakutkan, satu persatu dari sifat mereka merasuki diri seorang mukmin dalam keadaan tidak sadar, bahkan jika ditanya status, KTPnya menunjukkan muslim sejati.
Karena itu, Alquran memberi perhatian serius dari gejala sosial ini. Jika dibandingkan dengan gejala kekufuran, kenifakan lebih berbahaya. Itu karena ia samar-samar, tidak jelas dan lebih berbahaya. Dikira masih muslim sejati, tetapi musuh dalam selimut. Ia mengira dirinya masih muslim sejati, tetapi sedikit demi sedikit kulit keimanannya terkelupas dan digantikan dengan kulit kasar kenifakan tanpa sadar. Oleh itu, ia menusuk dari dalam tanpa disadari. Ini sangatlah berbahaya terhadap stabilitas keamanan sosial.
Abdullah bin Ubay hanyalah satu wajah kemunafikan yang pernah merajai pentas kenifakan pada zaman Rasulullah Saw yang telah berlalu, namun di pentas dunia kenifakan menguasai agenda-agenda perjanjian.
Negara adidaya membuka tangan dengan lebar membantu, tetapi mengharap lebih dari sekedar dunia dan isinya. Pinjaman bersyarat mewarnai penandatanganan bantuan kemanusiaan yang tidak manusiawi lagi. Di luarnya membantu, tetapi batinnya ingin mengeruk semua kekayaan alam negara-negara yang sedang membangun atau di bawah rate kemiskinan.
Di pentas nasional dan lokal, janji-janji politik disebar demi kursi kekuasaan. Rakyat memberi suara meski menyakini janji itu tidak sepenuhnya terwujud di alam nyata. Yang diharapkan, kesadaran berpolitik yang jauh dari garis-garis kenifakan. Karena politik identik dengan maslahat partai yang kadang mengabaikan maslahat besar umat yang mesti dikedepankan dari maslahat lain, kenifakan pun sulit dielakkan di pentas politik.
Kenifakan bukan hanya di pentas sejarah kuno, tetapi di pentas kehidupan modern pun ada, bahkan coraknya pun berwarna-warni dan lebih ramai lagi dari apa yang telah lalu. Oleh itu, waspadailah kenifakan karena dia biang kehancuran yang menyengsarakan.
Di penghujung tulisan singkat ini, pemerhati tema-tema kehancuran Alqur’an diajak menghayati kesimpulan berikut:
  • Impian-impian kenifakan terasa manis, namun semuanya hanyalah fatamorgana yang mewariskan kepahitan dan kesedihan.
  • Jangan tertipu dengan segala yang nampak anggun dan manis, tidak semua yang bermuka manis itu, batinnya suci dan tidak menyimpang dendam. Orang-orang munafik kaca mata minor Anda dalam melihat dunia luas kehidupan yang menayangkan banyak corak manusia.
  • Menyadarkan intuisi untuk selalu berusaha menangkap hakikat batin dari sebuah pentas kehidupan merupakan pelajaran besar dari pentas kenifakan yang dikemas rapi ayat-ayat kenifakan Alquran.
  • Sosok kemunafikan banyak dan satu persatu dari mereka pergi dan berlalu, tetapi sifat-sifat kenifakan tidak pernah mati dan senantiasa mencari pelakon baru.
  • Pentas kehidupan Alquran tayangan terpantas untuk mengambil ibrah kehidupan yang berkelas tinggi.
  • Alquran kitab kehidupan terbesar yang mengemas pentas-pentas kehidupan manusia dengan bahasa yang lugas, tepat, fleksibel dan berkelas hikmah


Sumber: http://www.dakwatuna.com/2015/09/16/74597/cahaya-akhirat-yang-hilang/#ixzz4TFEJouQY 
Follow us: @dakwatuna on Twitter | dakwatunacom on Facebook