Tuesday, 20 December 2016

Abu Lahab dan Ummu Jamil, Suami-istri yang Kehilangan Tangan Peradaban



Dr. Muhammad Widus Sempo
Titik-titik kehancuran Abu Lahab:
    Screenshoot Surat Al-Masad
  • Ringan tangan menyakiti Rasulullah Saw.
  • Bukan hanya dirinya yang memerangi Rasulullah Saw, ia pun melibatkan istri dan anak-anaknya. Satu keluarga telah terlibat.
  • Siap bekerjasama dengan siapapun demi menghabisi Rasulullah Saw, meski itu dengan setan sekalipun.
  • Baginya semua remeh dan enteng selagi itu untuk memerangi Rasulullah Saw, meski semua harta harus terbang melayang pergi.
  • Suara iman yang mengetuk hati diingkari, hanya karena keangkuhan dan kesombongan diri.
  • Karena kesombongan diri, ia melihat hina dirinya jika duduk bersama dengan orang-orang fakir miskin dari kalangan muaallaf sahabat.
  • Sejak beduk perang ditabur, ia tidak pernah insaf dan bertobat hingga mati dalam keadaan mengerikan.
  • Muamalah terburuk yang ditampilkan Abu Lahab terhadap hamba terbaik Allah SWT merupakan biang utama kehancuran dirinya.
  • Karena ikhtiar sesat Abu Lahab yang lebih memilih kekufuran, apa pun yang disuguhkan dan dinasehatkan tidak akan berguna.
Dengan turunnya Q.S. Al-Masad 10 tahun sebelum ia meninggal, pintu hidayah telah tertutup baginya. Ia tidak lain kecuali jasad yang kehilangan ruh. (Terinspirasi dari ayat-ayat kehancuran Abu Lahab di Q.S. Al-Masad, penulis)
﴿ تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ ﴿١﴾ مَا أَغْنَىٰ عَنْهُ مَالُهُ وَمَا كَسَبَ ﴿٢﴾ سَيَصْلَىٰ نَارًا ذَاتَ لَهَبٍ ﴿٣﴾ وَامْرَأَتُهُ حَمَّالَةَ الْحَطَبِ ﴿٤﴾ فِي جِيدِهَا حَبْلٌ مِّن مَّسَدٍ ﴿٥﴾
Seperti yang diketahui, tangan salah satu anggota tubuh yang punya peranan besar dari terciptanya peradaban manusia sepanjang sejarah. Tanpa tangan, tidak mungkin ada peradaban, meski manusianya memiliki segudang teori spektakuler.
Di ayat pertama Q.S. Al-Masad, Abu Lahab direkod Alquran sebagai orang yang kehilangan tangan peradaban dengan ﴿ تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ ﴿١﴾ yang artinya, “binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa.” Sementara itu, kehancuran orang-orang kafir di Q.S. Abasa (80): 17 dilukiskan dengan ﴾ ﴿ قُتِلَ الْإِنسَانُ مَا أَكْفَرَهُ. Kebinasaan mereka disuarakan dengan kata «قٌتِلَ» yang arti harfiahnya, “terbunuhlah.”
Ada apa di balik struktur ayat kehancuran Abu Lahab ini?
Di ilmu teknik, setiap benda punya ruang gerak yang memiliki peran dominan menentukan gerakan apa saja yang dapat dihasilkan. Kini, robot yang mampu melakukan hal-hal yang terhitung detail dan rumit, hanya dibekali 8 ruang gerak. Namun, tangan manusia punya 32 ruang gerak. Artinya, dia punya peluang dan kebebasan yang sangat luas dalam menentukan arah geraknya. Olehnya itu, tangan ini jika dipotong atau terpotong seperti makna harfiah kata ﴿ تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ ﴾, maka peluang peradaban yang dimiliki seseorang akan tamat.
Di kritik sastra Arab, doa yang paling keras dan menusuk ﴿ تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ ﴿١﴾. Di lain sisi, doa yang paling lembut doa Amir as-Syuara, Ahmad Syawqi yang dilantukan khusus untuk kekasihnya:
مَوْلايَ ورُوحِي في يَدِه     #           قد ضَيَّعها سَلِمتْ يَدُه[1]
Kini, kita memiliki dua struktur doa yang berlainan; « سَلِمتْ يَدُه » doa kebaikan yang paling lembut untuk siapa saja yang menyuguhkan jasa baik dalam bentuk apa pun. Di lain sisi, « تَبَّتْ يَدُه » doa kehancuran yang paling menyengat. Karena itu, ﴿ تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ ﴿١﴾ mengoleksi pesan tersirat bahwa peran peradaban Abu Lahab telah berakhir, meskipun wujudnya sebagai manusia masih terlihat. Hidupnya sebagai sang pencetus kebaikan, pemilik ide-ide peradaban yang cemerlang dan penggagas kreativitas yang manusiawi telah menemui kata akhir. Di konteks bahasa Alqur’an ini, Abu Lahab digambarkan seperti manusia yang kehilangan ruh peradaban, meski nyawa masih dikandung badan. Oleh sebab itu, ﴿ تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ ﴿١﴾ datang dalam waktu dan konteks penyifatan yang tepat.
Di samping itu, ayat pertama Q.S. Al-Masad datang dengan ﴿ تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ ﴿١﴾, dan bukan « تَبَّتْ يَدَا عَبْدِ الْعُزَّى ». Ada apa dengan struktur ayat ini? Bukankah Abu Lahab itu adalah Abdul Uzza bin Abdu al-Muttalib, paman Rasulullah Saw? Kenapa ia datang dengan nama panggilan « أَبِي لَهَبٍ » dan bukan dengan nama aslinya?
Andaikata ayat itu datang dengan struktur « تَبَّتْ يَدَا عَبْدِ الْعُزَّى », tentunya penyifatan ini di bingkai kebiadaban Abdul Uzza saja dan menutup kemungkinan adanya orang lain yang memiliki sifat yang sama. Seakan-akan Abdul Uzza ini sosok yang sifatnya hanya sekali ditemukan seumur dunia, berakhir di sini dan tidak akan terulang lagi di kemudian hari.
Namun struktur ﴿ تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ ﴿١﴾ sungguh beda, sistematika pemaknaan Alqur’an yang tetap membuka ruang penglibatan diri bagi siapa saja yang memiliki sifat yang sama dengan Abu Lahab di kemudian hari. Artinya, fenomena sosok Abu Lahab boleh jadi ditemukan dari generasi ke generasi, selain sosok Abu Lahab yang ada pada diri Abdul Uzza, seperti kefir’aunan Fir’aun di zaman nabi Musa As yang fenomenanya terulang kembali di hikayat-hikayat kezaliman para penguasa yang datang setelahnya. Seperti mereka dilemparkan ke neraka yang menyala, yang mengikuti sifat mereka pun memiliki takdir yang sama. Olehnya itu, siapa saja yang memerangi agama Allah SWT, maka ia berhak disejajarkan, bahkan berhak dinamai dengan Abu Lahab versi baru dengan rahasia keuniversalan rangkuman makna Alqur’an yang cakupannya tidak terbatas oleh waktu dan tempat.
Selain itu, seandainya Surah ini dipola dengan « تَبَّتْ يَدَا عَبْدِ الْعُزَّى », ia seperti membenarkan penyembahan patung Uzza yang senantiasa disembah. Tentunya, ini merupakan kejanggalan yang patut dihindari. Sementara itu, penyembahan Latta, Uzza dan Manat telah ditepis dan disangkal Q.S. An-Najm (53): 19-23.
Hematnya, Q.S. Al-Masad ini awal dari sebuah fenomena kebiadaban manusia yang berkesinambungan memerangi agama Allah SWT dari bingkai fenomena Abu Lahab yang merupakan umbi dasar dari versi-versi baru Abu Lahab di kemudian hari.
Sebelum terlalu jauh melangkah, pemerhati ayat-ayat kerugian diajak menelusuri awal mula kebencian Abu Lahab terhadap Rasulullah Saw.
Setelah Rasulullah Saw mendapat izin Allah SWT untuk memperdengarkan dakwah Islam secara terang dan meluas, dia naik di gunung Shafa dan berteriak, “ya Shabaha, ya Shabaha.”[2] Kaum Quraish yang mendengar teriakan ini tersentak kaget dan bertanya, “siapa yang berteriak seperti ini?”
“Muhammad.” Jawab mereka.
Mendengar ini, mereka pun datang dengan konvoi, atau datang sendiri-sendiri. Yang tidak sempat datang, ia mengutus hambanya, pembantunya, atau wakilnya. Di antara mereka yang datang, Abu Lahab, paman Nabi Muhammad Saw.
“Ya Bani Ka’ab bin Murrah, ya Bani Abdi As-Syams, ya Bani Abdi Manaf, yang Bani Abdul Muttalib…” Seru Nabi Muhammad Saw kepada seluruh suku Quraish.
“Ya Muhammad, apa yang hendak engkau beritakan?” Tanya Abu Jahal yang penasaran.
“Wahai Quraish, jika saya memberitahu bahwa di belakang lembah ini ada sekelompok pasukan berkuda ingin menyerang kalian, apakah kalian percaya kepadaku?” Tanya Muhammad.
“Ya, kami tidak pernah menemui sedikitpun kebohongan dari Anda.” Jawab mereka dengan penuh yakin.
“Saya mengingatkan kalian azab yang dekat.” Tegas Muhammad.
“Kehancuran bagimu sepanjang hari, Muhammad! Apakah karena ini saja, engkau mengumpulkan kami?”
Inilah yang melatarbelakangi turunnya Q.S. Al-Masad. Di sini pula awal dari kebencian dan permusuhan Abu Lahab terhadap Rasulullah Saw.
  1. Kebiadaban pertama tangan Abu Lahab yang tidak manusiawi:[3]
Thâriq bin Abdullah al-Muhâribi menceritakan sebuah kisah menarik sebelum keislamannya, “suatu ketika saya melihat dua orang lelaki di Mekah. Yang pertama berlari dan menggemakan dakwah ketuhanan, “wahai manusia, katakanlah, “tiada tuhan selain Allah! Keuntungan dan kejayaan memihak Anda.”
Di belakangnya, seorang lelaki sedang mengejar dan berkata, “kalian jangan percaya, dia itu pendusta besar.”
“Saya pun bertanya, “siapa yang pertama dan yang kedua.” Tanya Thâriq al-Muhâribi.
“Yang pertama itu Muhammad. Dia menganggap dirinya sebagai nabi yang diutus dari langit.” Jawab mereka.
“Yang kedua itu, siapa”” Tanya Thâriq.
“Itu pamannya, Abu Lahab yang selalu menteror dan menyakitinya.”
Tahukah Anda seperti apa pesan kemanusiaan dari kebejatan Abu Lahab di sini?
Dia seperti berpesan, “wahai manusia, saya saja pamannya, orang terdekat dan paling tahu siapa dia, mendustai dakwahnya. Saya menyikapinya seperti orang yang sedang melempar Jumrah yang merupakan simbol peperangan manusia dengan setan. Olehnya itu, Anda tidak perlu lagi ragu dari sikap saya ini. Jika saya yang lebih banyak tahu tentang dirinya telah mendustai dakwahnya, Anda pun seyogianya melakukan hal yang sama. Seperti itulah logika kebenaran.”
Yah, jika orang asing yang mendustai, itu hal biasa dan wajar. Namun jika orang terdekat yang mendustai, itu hal aneh dan jarang dijumpai. Artinya, Q.S. Al-Masad melihat keanehan ini sebagai keanehan yang lahir dari sifat kemanusiaan Abu Lahab yang tidak wajar dan lumrah.
  1. Kejahatan kedua tangan Abu Lahab yang biadab:[4]
Di setiap ambang fajar, Abu Lahab meletakkan kotoran manusia di pintu Rasulullah Saw. Dia berharap Rasulullah Saw mengurungkan niat dan menutup kembali pintunya untuk tidak menyebarluaskan dakwahnya setelah psikologisnya diusik dengan tingkah laku yang menyebalkan seperti ini.
“Di manakah hak-hak tetangga wahai Bani Abdul Muttalib? Seperti inikah Anda memuliakan tetangga?”
Hamzah yang belum juga mengislamkan diri mendengar perkataan ini, menemukan gejolak di hatinya yang mencoreng kehormatan Bani Abdul Muttalib, ia pun mengambil kembali kotoran itu dan meletakkan di atas kepala Abu Lahab. Di riwayat lain, ia memukul kepala Hamzah dengan gagang senjata.
“Sesungguhnya saudara saya ini telah gila.” Tegas Abu Lahab yang tidak menerima perlakuan seperti ini dari Hamzah.
“Bagaimana mungkin Hamzah memenangkan Muhammad yang berlawanan keyakinan dengannya atas saya yang seakidah dengannya.” Monolog hati Abu Lahab yang diterpa kejanggalan hebat dari tingkah laku aneh Hamzah.
Yah, meskipun Hamzah belum memeluk Islam pada saat itu, tetapi ia dengan fitrah dan akal sehatnya melihat kebiadaban perbuatan Abu Lahab yang tidak berperadaban telah mencoreng kehormatan Bani Abdul Muttalib.
  1. Kebencian dan permusuhan yang sistematis dan berencana dari keluarga Abu Lahab[5]
Bukan hanya Abu Lahab sendiri yang terlibat di perang ini, namun ia melibatkan juga anak-anak dan istrinya. Satu keluarga telah dilibatkan oleh tangan biadab Abu Lahab, meskipun akhirnya tiga orang dari anak-anaknya mengislamkan diri di kemudian hari.
Abu Lahab dikaruniai 4 anak. Utbah, Muattab, Utaibah, dan Durrah. Semuanya masuk Islam kecuali Utaibah. Utbah dan Muattab menyatakan keislaman di hari penaklukan kota Mekah. Sementara itu, Utaibah yang kafir mengawini Ummu Kaltsum, putri Rasulullah Saw. Selain itu, saudarinya, Ruqayyah dikawini oleh Utbah. Tat kala Q.S. Al-Masad turun, Abu Lahab berkata, “kepalaku dan kepala kalian haram bersentuhan jika kalian berdua tidak mentalak kedua putri Muhammad.” Keduanya pun menjatuhkan talak kepada istri masing-masing.
“Sebelum mentalak putri Muhammad, saya akan melukai dan menyakiti perasaannya terlebih dahulu.” Tegas Utaibah.
“Di saat mengadakan perjalanan niaga ke Syam, ia menghampiri Muhammad dan berkata, “wahai Muhammad, saya mengingkari ﴿ وَالنَّجْمِ إِذَا هَوَىٰ ﴾ dan ﴿ ثُمَّ دَنَا فَتَدَلَّىٰ ﴾ .” Tegasnya.
Setelah itu, ia meludah di depan Rasulullah Saw dan mentalak anaknya, Ummu Kaltsum.
Seperti apa perasaan Rasulullah Saw saat itu? Kita saja yang mendengarkan ini, hati seperti hancur berkeping, perasaan seperti ditikam berkali-kali. Rasulullah Saw yang telah rida melepas kedua buah hatinya untuk dipinang oleh kedua anak Abu Lahab, kini dicela dan diperlakukan dengan begitu bengis oleh menantunya sendiri. Sungguh menyakitkan.
Karena itulah, Rasulullah Saw pun marah dan mendoakan kebinasaannya, “ya Allah, kirimlah salah satu anjing dari anjing-anjing-Mu (tentara Allah) untuk menghabisinya.” Ia pun dihabisi oleh Singa.
Doa ini sampai di telinga Abu Lahab. Dengan cepatnya ia berkata kepada konvoi yang menyertai anaknya di perjalanan panjang tersebut, “Muhammad itu mendoakan kehancuran anakku, saya takut dan merisaukan keselamatan dirinya dari doa tersebut. Berjanjilah kalian kepadaku untuk melindungi Utaibah dalam keadaan apa pun.”
Setelah mereka tiba di Sarqa, tempat yang masyhur di Yordania, mereka pun letih dan sepakat untuk istirahat. Seperti yang dipesankan Abu Lahab, Utaibah berada di tengah, dikelinlingi oleh mereka. Sementara tidur lelap di tengah malam, seekor singa mendekati kerumunan itu. Sebagian dari mereka terbangun dan memberikan perlawanan, namun tetap saja tidak berhasil mengusirnya, hingga ia mendekati kepala Utaibah. Yakin akan kematiannya, ia pun berkata, “Sesungguhnya Muhammad telah membunuhku, sementara dia di Mekah, dan saya di Syam.”
Kepala Utaibah terpisah dari tubuhnya oleh terkaman singa yang tidak mengenal iba dari seorang manusia bejat yang kehilangan nilai-nilai insani.
Subhanallah, singa ini tahu misi sucinya. Dia tidak menerkam atau melukai siapapun dari mereka. Dia hanya mengincar targetnya yang ditakdirkan. Singa ini salah satu ayat dari kebesaran Allah SWT dan keagungan Nabi-Nya Saw, nabi akhir zaman yang mendapatkan perlindungan dan pertolongan dari Allah sendiri, Jibril, orang-orang beriman dan seluruh Malaikat seperti yang direkod Q.S. At-Tahrim (66):4
  1. Cara apa pun ditempuhnya, selagi itu dapat menyakiti Muhammad, meski dengan bantuan setan sekalipun[6]
Pada hakikatnya, Abu Lahab seorang yang penakut. Di perang Badar, ia tidak melibatkan diri karena takut mati. Namun, di kepalanya “menghabisi Muhammad” tetap menghantui. Olehnya itu, ia menyewa al-Ash bin Hisyam bin al-Mugirah untuk membunuh Rasulullah Saw dengan 4.000 Dirham.
Mendengar kemenangan mujahidin Islam di Badar, Abu Lahab jatuh sakit dan dijangkiti penyakit bisul atau sejenis cacar yang menyebabkan kematiannya. Di riwayat lain, penyakit anehnya ini disebabkan oleh bekas pukulan Ummu al-Fadhl yang melukai bagian kepalanya dengan tiang balok. Dia melampiaskan dendam atas penganiayaan Abu Lahab yang menampar muka Abu Sufyan bin al-Harits bin Abdul Muttalib setelah kecewa mendengar darinya berita kemenangan Rasulullah Saw dan sahabat-sahabatnya.
Mayat Abu Lahab selama 3 hari 3 malam terlantar. Semua orang jijik dari bau busuk yang menyengat dari jasadnya. Olehnya itu, tidak seorangpun yang berani mengurusnya, apa lagi menguburkannya, termasuk putra-putranya. Ia pun dibungkus dengan kain dan dibawa pergi ke sebuah tempat yang agak terisolir dari perkampungan, kemudian dilempar dengan batu hingga tubuhnya terkubur dan tidak kelihatan oleh tumpukan batu tersebut.
Di samping itu, azab api neraka yang menyiksanya di hari pembalasan merupakan jenis azab yang paling pedih. Api menyala-nyala yang langsung menyengat kulit dengan derajat panas sangat tinggi, di luar dari hitungan matematika, meski ada periwayatan yang memberikan pendekatan kalkulasi terhadap derajat panas api neraka. Jika ayam bakar saja matang dan siap dicicipi meski tidak disentuh langsung dengan api, bagaimana dengan Abu Lahab dan istrinya yang dilempar di tengah api neraka yang begitu panas? Bukan hanya tubuh kasatnya yang terbakar, abunya pun ikut terbakar sehingga tidak ada yang tersisa, kemudian dikembalikan lagi seperti semula untuk menerima azab yang serupa.
Olehnya itu, api yang menyiksanya disifati dengan api yang punya lidah menyala-nyala yang siap menerkam penghuni neraka, bukan dengan api Jahannam seperti di Q.S. At-Taubah (9): 35.
Penyiksaan pedih ini dikisahkan ayat ketiga Surah ini dan Q.S. Al-Muddaththir (74): 27-30
﴿ وَمَا أَدْرَاكَ مَا سَقَرُ ﴿٢٧﴾ لَا تُبْقِي وَلَا تَذَرُ ﴿٢٨﴾ لَوَّاحَةٌ لِّلْبَشَرِ ﴿٢٩﴾ عَلَيْهَا تِسْعَةَ عَشَرَ ﴿٣٠﴾
  1. Istri yang mesti dijaga dalam bingkai iman, justru diajak mengarungi lautan kekufuran yang sama[7]
Istri Abu Lahab dipanggil sehari-harinya dengan Ummu Jamil. Dia adalah Arwa binti Harb bin Umayyah, saudari Abu Sufyan. Dia dari kalangan bangsawan wanita-wanita Quraish.
Setelah mendengar surah ini, khususnya ayat keempat dan kelima, dia pun menyakini kehancuran dirinya sehingga keluar tidak sadar diri ke jalan dan berteriak, “oh, binasahlah aku, binasahlah aku. Sesungguhnya aku telah hancur.” Tegasnya.
« يَا وَيْلِيْ، يَا وَيْلِيْ، لَقَدْ هَلَكْتُ ».
Mungkin Anda bertanya, “apakah yang menyebabkan Ummu Jamil menyakini kehancuran dirinya?”
Dengan fitrah bahasa yang kental dimilikinya sebagai orang Arab, ia tahu bahwa ﴿ وَامْرَأَتُهُ ﴾ yang huruf ta’nya (ت) berbaris dammah (ُ) beda dengan «وَامْرَأَتَهُ» yang huruf ta’nya (ت) berbaris fathah (َ).
﴿ وَامْرَأَتُهُ ﴾ menurut kaedah bahasa Arab diatafkan (diikutkan) hukumnya kepada ﴿ تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ ﴾ baik secara harakat (pengucapan kata dengan baris-baris yang ada sesuai dengan kaedah ilmu nahwu) ataupun secara pemaknaan. Artinya, jika kehancuran Abu Lahab hal yang pasti, istrinya pun demikian, keduanya dalam takdir yang sama.
Lain halnya dengan «وَامْرَأَتَهُ» dengan baris fathah (َ) pada huruf ta’nya. Struktur ini dipola dalam bingkai pemberitaan sehingga hukum nahwunya pun dan pemaknaannya tidak mengikut kepada ﴿ تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ ﴾. Seandainya ayat keempat ini datang dengan struktur ini, maka kehancuran istri Abu Lahab bukan hal yang pasti. Itu karena sifatnya hanyalah pemberitaan yang boleh saja terjadi ataupun tidak. Karena itulah, Ummu Jamil seperti himar yang lari terbirit-birit dari kejaran seekor singa galak. Ia menyakini kehancuran dirinya dari﴿ وَامْرَأَتُهُ حَمَّالَةَ الْحَطَبِ ﴿٤﴾ . Tentunya, keyakinan ini menyuarakan pengakuan tersirat terhadap kebenaran Alqur’an dan dakwah Rasulullah Saw. Meskipun, Ummu Jamil tidak menyuarakan ini, tetapi konteks ucapannya setelah mendengar Surah ini dalil yang tidak terbantahkan terhadap pengakuan tersirat ini, meski disangkal dengan lidah kebohongan dan tingkah yang mengecoh.
Yang tidak kalah menarik, istrinya datang dengan kata ﴿ وَامْرَأَتُهُ ﴾ dan bukan «وَزَوْجُهُ ». Istri di masyarakat Arab sering dipanggil dengan kata zawjah « زَوْجَة » atau imraah « امْرَأَة ». Namun zawjah lebih kental makna keakraban dan pertaliannya dari kata imraah. Karena zawjah sendiri seakar kata dengan zawj « زَوْج »yang artinya “suami”.
Hematnya, struktur﴿ وَامْرَأَتُهُ حَمَّالَةَ الْحَطَبِ ﴿٤﴾ mengisyaratkan keluarga Abu Lahab yang mengantongi seribu satu masalah. Bukankah memerangi kebenaran Islam yang tidak mungkin terkalahkan sebuah masalah? Bukankah memadamkan api tauhid yang tidak mungkin padam sebuah masalah? Bukankah menggelar panggung kebencian dan dendam kepada penebar rahmat untuk seantero alam merupakan kegilaan semata yang pada dasarnya masalah yang paling besar? Bukankah setiap dari masalah ini merupakan pangkal dari lahirnya masalah-masalah bercabang yang sulit dipecahkan?
Olehnya itu, keluarga Abu Lahab diombang-ambing seribu satu yang pemecahannya hanya dengan berhenti memusuhi Islam dan menyatakan pengakuan terhadap kebenarannya seperti apa yang tersirat di hati kecil mereka.
Yang menguatkan kesimpulan ini istri Nabi Nuh As, Nabi Luth As dan Fir’aun yang datang di Alqur’an dengan kata imraah « امْرَأَة », dan bukan dengan kata zawjah « زَوْجَة ».
Yah, kedua istri Nabi Allah tersebut telah menghianati suami-suami mereka. Tentunya, ini merupakan masalah besar yang menjadi biang dari retaknya sebuah keluarga. Olehnya itu, Allah SWT melepas diri dari kedua istri tersebut dan terekod oleh Alqur’an sebagai salah satu penghuni neraka.
Demikian halnya dengan istri Fir’aun yang mendurhakai Fir’aun dan lebih memilih agama Islam yang disuarakan Nabi Musa As. Akhirnya, keluarga Fir’aun retak dan Fir’aun sendiri berniat menghabisi istrinya dengan melemparnya dari ketinggian gunung. Namun kemenangan berpihak kepada istrinya yang terekod Alqur’an sebagai istri yang dianugerahi rida dan surga Allah SWT dari mujahadah menentang kezaliman dan kekufuran.
Struktur ayat keempat dan kelima Surah ini seperti berpesan kepada semua keluarga muslim, “jika kalian ingin damai, bahagia dan sejahtera, ikutilah petunjuk agama ini dan jangan memeranginya seperti apa yang telah dilakukan keluarga Abu Lahab.”
Sekarang, ada apa dengan Ummu Jamil?
Setelah turunnya Surah ini, Ummu Jamil ke sana kemari mencari Nabi Muhammad Saw untuk melampiaskan dendamnya. Di waktu yang sama, Rasulullah Saw dengan Abu Bakar duduk bersama.
“Dimana Muhammad? Dimana Muhammad?” Teriaknya.
“Ya Rasulullah, Ummu Jamil sedang mencari Anda.” Kata Abu Bakar.
“Allah akan menghijab pandangannya dariku.” Kata Rasulullah Saw dengan penuh yakin.
Melihat Abu Bakar, Ummu Jamil pun menghampirinya dan berkata, “dimana Muhammad? Saya mendengar bahwa dia mencaci-maki aku. Jika saya melihatnya, saya pastinya melempar dia dengan batu ini. Dialah yang tercela, seruannya didurhakai, dan agama barunya akan berakhir.” Tegasnya.
Selain itu, ia menjual kalung emas yang melingkar indah di lehernya dan harganya dinafkahkan untuk memerangi Rasulullah Saw.
Umumnya, semua perempuan menginginkan emas dan mencari perhiasan yang dapat menambah cantik penampilannya, namun karena kebencian dan dendam yang membara, Ummu Jamil menyalahi fitrah ini. Sungguh ini kegilaan yang membuat.
Olehnya itu, azabnya pun di akhirat sepadan dengan kegilaannya itu. Di lehernya tali api yang mengikat kuat, terseret ke lembah kehancuran.
Karena sifat-sifat buruk yang ditampilkan Abu Lahab dan istrinya, Surah ini pun dikemas dalam struktur penyusunan surah-surah pendek dengan begitu apik dan indah di akhir Alqur’an. Tentunya, penempatan ini mengundang tanya dan perhatian, “ada apa dengan struktur penempatan surah ini dalam bingkai surah-surah pendek Alqur’an?”
Seperti bunga yang Anda letak di sudut ruang, di tempat yang khusus, tidak bercampur dengan benda-benda lain, tentunya akan menambah indah penampilan ruangan tersebut.
Seperti file khusus yang Anda simpan di draft khusus, tentunya file itu punya arti lebih bagi Anda dari file-file lain sehingga Anda pun mengkhususkan tempatnya.
Seperti itu juga dengan Q.S. Al-Masad. Dengan struktur penempatannya yang berada di akhir Alqur’an, ia menarik perhatian, ia mengundang tanya, “kenapa dia ditempatkan di sini bersama dengan surah-surah penutup Alqur’an, seperti Q.S. Al-Falaq dan Q.S. An-Nas? Kenapa dia tidak disisipkan di surah-surah panjang seperti kisah Nabi Musa As dan Fir’aun? Kenapa yah?”
Bukan hanya itu, pengemasan kisah Abu Lahab di surah pendek ini menyebabkan pengucapan ﴿ تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ ﴾ yang merupakan doa kehancuran terhadapnya senantiasa dipanjatkan setiap kali surah ini dibaca di shalat ataupun di luar shalat, bahkan anak kecil pun mendoakannya, meski ia tidak tahu makna. Subhanallah yang memenangkan Rasulullah Saw dari seribu satu arah dan cara meski kadang tidak disadari.
Dengan pertanyaan-pertanyaan seperti ini, cahaya keagungan Alqur’an dan ayat-ayat ketuhanan semakin terbeberkan. Setiap kali Anda bertanya, setiap kali itu juga khazanah maknawi Q.S. Al-Masad menyuguhkan untaian makna dan hikmahnya.
Dia seperti berkata, “wahai umat Muhammad, hati-hatilah kalian! Fenomena Abu Lahab ini bukan hanya pada Abdul Uzza, tetapi ia boleh jadi menghampiri dan melekatkan diri kepada kalian sehingga bukan hanya satu saja Abu Lahab, tetapi ada versi kedua, ketiga dan seterusnya.”
Di penghujung ayat-ayat kehancuran Abu Lahab di atas, saya mengajak para pecinta Alqur’an memetik sari pati makna Q.S. Al-Masad seperti berikut:
  1. Hidayah di tangan Allah SWT. Meski Rasulullah Saw berusaha keras menyelamatkan pamannya, Abu Lahab dari kekufuran, tetapi ia lebih memilih mati dalam keadaan kufur.
  2. Pertolongan Allah SWT kapan saja dan dari mana saja. Jika tidak datang dari orang terdekat, yakinlah, ia pasti datang, meski dari orang-orang yang jauh kekerabatannya.
  3. Muamalah asas keselamatan. Karena muamalah Abu Lahab terhadap Rasulullah Saw tidak manusiawi, kebiadabannya pun direkod Alqur’an hingga hari kiamat. Lain halnya dengan Abu Talib, paman Rasulullah Saw. Meski mati dalam keadaan kafir bagi mayoritas Ahlu Sunnah wal Jamaah, namun karena ia tidak menyakiti Rasulullah Saw, bahkan menyantuni dan memberikan proteksi diri terhadapnya, ia pun tidak direkod Alqur’an sebagai manusia yang kurang etika dan biadab.
  4. Abu Lahab bukan hanya Abdul Uzza. Versi baru Abu Lahab boleh saja muncul dan terlihat kapan saja. Kubur Abu Lahab dengan tidak melakoni peran yang sama!
  5. QS. Al-Masad kesimpulan ringkas dari sebagian sudut-sudut kehidupan sosial yang dipentaskan kejahilan dan kegilaan Abu Lahab dan keluarganya. (usb/dakwatuna)
[1]      Abu Ishaq al-Qaerawâni, Zahru al-Adâb wa Tsmar al-Albâb, vol. 1, hlm. 12
[2]      Teriakan ini tanda bahwa ancaman musuh semakin dekat ke jantung kota.
[3]      Lihat: Ibn Saad al-Bagdadi, at-Thabaqât al-Kubra. Vol. 1, Hlm. 199, Abu Bakar, Ahmad bin Abi Khaetsama. at-Târîkh al-Kabîr. Vol. 1, hlm. 167, Abu Bisyr ar-Razi, Muhammad bin Ahmad bin Hammad bin Said. ad-Dsurriyah at-Thâhirah an-Nabawiyah. Vol. 1, hlm. 56.
[4]      Lihat: Ibn Saad, at-Thabaqât al-Kubra. Vol. 3, hlm. 5
[5]      Lihat: Abu Naim al-Asbahâni, Ma’rifah as-Shahâbah. Vol. 6, hlm. 3198
[6]      Lihat: Abu Hâtim ad-Dârimi al-Busti, at-Tsiqât. Vol. 1. Hlm. 34, Abu al-Qâsim al-Ashbahâni, Siyar as-Salaf as-Shalihin. Vol. 1, hlm. 589
[7]      Lihat: Ibn Basykawâl, Gawâmidh al-Asmâ al-Mubhamah al-Wâqiah fi Mutûn al-Ahâdith al-Musnadah. Vol. 1, hlm. 190-191